Di Atas Panggung Sydney Opera House

Penampilan pertama OSUI Mahawaditra di Sydney adalah di Sydney Opera House tanpa mencoba panggung.

Penulis bersyukur, dimasa hidupnya yang masih muda dengan kemampuan musiknya yang pas-pasan ini mampu menyumbangkan suara violinnya dalam sebuah orkestra, di atas panggung dalam Sydney Opera House (SOH).  Perasaan penulis selama berada di sekeliling, dan di dalam SOH mungkin sama dengan perasaan bocah kampung yang baru pertama kali datang ke ibu kota, katro, meskipun penulis masih bisa menahan diri dan pura-pura beradab karena ada di negeri orang dan banyak bule.

Waktu itu, di hari yang sama dengan penampilan kami di SOH, penulis beserta rombongan orkes pertama, yang terbang langsung dari Cengkareng, tiba di Sydney International Airport tanggal 27 Juni, pukul 10:00 waktu setempat. Rombongan pertama ini kemudiani bertemu dengan rombongan kedua, rombongan transit, yang mendarat di bandara lebih pagi, setelah transit dari Bali. Selanjutnya, kami dijemput oleh experience manager, semacam LO kami selama di Sydney. Kami bertolak dari bandara menggunakan coach, bus yang digunakan untuk perjalanan jauh, dan menjemput rombongan orkes ketiga,rombongan extend, yang sudah sampai di Sydney sehari sebelumnya.

Setelah semua anggota orkes terkumpul dalam coach tersebut, kami siap untuk menjelajahi Sydney, biarpun di musim dingin, dan pada siang itu, udaranya sudah sedingin udara puncak.

Kami dijadwalkan untuk menonton acara pembukaan AIMF di SOH pada pukul 19:00, menonton penampilan peserta lain di babak pertama, dan tampil di babak kedua pada pukul 20:45. Setelah pergi ke pantai Bondi, jalan-jalan dan foto-foto di pinggir tebing, beristirahat dan bersiap di hotel, Ibis budget hotel, kami sampai di SOH sekitar pukul 15:00. Selang waktu yang cukup lama kami gunakan untuk persiapan di dalam backstage.

Backstage dan Acara Pembukaan

Kami masuk ke dalam backstage untuk menempatkan barang pribadi dan instrumen masing-masing di ruangan yang telah disediakan untuk kami. Di dalam backstage, sebelum mencapai ruangan yang dimaksud, kami melewati greenroom—ruangan bersantai para penampil. Disini disediakan sebuah bar, sebuah meja biliard mini, sofa-sofa, serta restoran kecil dengan jajaran meja makan dan kursinya. Sofa-sofa empuk dan tata cahaya yang ‘redup’ menjadikan tempat ini nyaman untuk duduk-duduk .

Dari greenroom , terdapat percabangan koridor-koridor kecil, entah mengarah kemana, beserta ruang-ruang kecil menempel bak daun di kiri dan kanannya, membuat pendatang seperti kami mudah tersesat. Bersyukur, kami diarahkan oleh panitia dan berhasil menemukan jalan ke ruangan kami melalui salah satu koridor tersebut.  Di pintu ruangan tersebut, tertulis:

“Universitas Indonesia”

“DRESSING
ROOM 75
C306”

Kami segera memasuki ruangan yang langsung padat memerah tersebut, dipadati oleh kami yang menggunakan seragam berwarna merah marun. Kami menempatkan instrumen dan barang bawaan pribadi  di dalam: agak sporadis. Tas dan case instrumen berserakan di bawah. Berjalan jadi menantang karena harus mengangkat kaki agak lama, mencari pijakan kosong di antara serakan case-case instrumen dan tas-tas di bawah. Beberapa dari kami mencari pelarian di luar ruangan, ngemper  di koridor depan, bagai lemak menumpuk di pembuluh darah arteri.

20150628044722-1 20150628044722-2

Kami semua sibuk nyetemnyetem, main-main,  nyuri-nyuri latihan, duduk-duduk, dan foto-foto, sambil menunggu acara dimulai. Meskipun pada sibuk, tenangnya cahaya malam di atas laut Sydney selalu tersedia untuk kami nikmati melalui kaca jendela. Disini, karena lagi musim dingin, jam 5 sore sudah gelap dan lampu-lampu mulai dinyalakan. Yang puasa berbuka puasa di greenroom.

Baru berada di dalam backstage saja sudah berasa menjadi musisi profesional. Maksud penulis, tidak semua orang bisa masuk ke sini (untuk tur backstage, harus membayar $165/individu). Sydney Symphony Orchestra (SSO), Gil Shaham, Adele Anthony, dan Chris Botti berada disini beberapa hari setelah penampilan kami. Ada perasaan senang tertentu, bisa berbagi dimensi ruang dengan orang-orang seperti mereka, meski dalam dimensi waktu yang berbeda.

Ketika acara dimulai pada pukul 19:00 dan kami masuk ke dalam main concert hall SOH, kami langsung terpapar oleh kemegahan dan luasan interiornya. Hal pertama yang menjadi perhatian penulis adalah pipe-organ besar yang menggantung di belakang panggung. Jajaran pipa-pipa metal vertikal yang kurang lebih simetris, berwarna abu-abu , mengkilap, dan berbentuk geometris tersebut kontras dengan lekukan kayu berwarna krem yang lebih dinamis di atas ruangan, meminta perhatian. Di tengah-tengah pipe-organ tersebut terdapat sebuah balkon kecil untuk seorang pemainnya.

Apalagi yang penulis inginkan? Selain mendengarkan J. S. Bach memainkan Tocatta and Fugue in D minor (BWV 565) di atas balkon tersebut.

Ah… atau kalau itu dianggap tidak realistis, siapapun pemainnya juga boleh…

Kami duduk memanjang di barisan ke-3 dan ke-4 dari panggung, mulai menonton pembukaan acara dan penampilan peserta lainnya.  Penampilan mereka semua luar biasa. Permainan mereka rapih dan memperhatikan detail. Instrumen mereka mengkilap, lengkap, dan terawat, literally, tercermin pada instrumen brassnya. Dan yang membuat penulis minder (dan berharap), adalah fakta bahwa banyak dari mereka adalah anak SMA.

Sebelum babak pertama berakhir, pada saat penampilan, mulai dari mba Metta, music director kami, kami membisikan pesan berantai hingga ke ujung barisan untuk keluar dari main hall dan mempersiapkan penampilan kami sendiri. Di sela-sela penampilan, kami mengendap-endap, meninggalkan tempat duduk selagi lampu masih redup, balapan dengan kru panggung yang kerjanya sangat efisien dan cepat. Kami semua pindah ke backstage, berkumpul di dalam ruangan kami, mempersiapkan penampilan di babak berikutnya.

 

Detik-detik di Atas Panggung

Setelah bersiap dalam ruangan, kami diarahkan oleh panitia ke apa yang penulis sebut sebagai backstage utama yang benar-benar bersebelahan dengan panggung. Ruangan ini terlihat seperti ruang rapat: ada sebuah meja panjang di dalamnya yang dikelilingi oleh kursi-kursi. Di salah satu sisi terdapat beberapa loker besi sebesar pintu yang ‘dipilox-cetak’ dengan sebuah nama, yang sepertinya merupakan nama-nama pemain SSO, tuan rumah panggung ini. Di samping loker tersebut, berjajar rapih sejumlah hardcase contrabass yang berwarna-warni. Di pojok ruangan, terdapat sebuah grand piano kecil yang tertutup kain. Segala usaha untuk memainkan instrumen disini akan dibalas oleh “ssshhhhhh”  dan umpatan “berisik” dari teman-teman yang takut suara kami bocor ke panggung. Kebanyakan dari kami  menyembunyikan perasaan tegang, kalau tidak keasikan. Kami menunggu disana hingga kru panggung, panitia AIMF,  memberi sinyal untuk masuk ke atas panggung.

Cello duluan! Cello duluan!” mendesis pelan beberapa teman, sembari gugup berjalan, ke arah pintu yang menghubungkan penampil dengan ratusan pasang mata dan telinga dibaliknya.

Pada saat memasuki panggung, lampu biru, redup menyorot kami selagi kami bersiap mengambil posisi (duduk) masing-masing. Lampu utama yang terang dan lebih hangat perlahan-lahan dinyalakan, menelanjangi kami yang belum siap di posisi, masih nyetem, membolak-balik partitur, mencari sordine, minta stopper cello, dan berbagai tindak-tanduk lucu lainnya. Lima puluh dua orang pemain orkestra kami muat dengan nyaman di atas panggung yang luas ini.

Pembawa acara AIMF, seorang pria yang senang bercanda, memperkenalkan orkestra kami kepada seluruh penonton, meski kesulitan melafalkan kata “universitas” dengan logat bulenya

The Orches Symphony University… Universitas Indonesia!”

Pengaba kami, Michael Budiman Mulyadi, datang dengan langkah yakin dan kami semua berdiri sebagai bentuk hormat atas kedatangannya. Ia menempatkan dirinya di tengah-tengah mimbar pengaba, menghadap dan memberi hormat kepada penonton, berputar menghadap kami, mengangkat baton dan tangannya, mensiagakan kami untuk menghasilkan musik.

Auranya berbeda dari pengaba orkestra lain yang kami tonton sebelumnya di babak pertama: ada aura santai dan riang yang tidak diperlihatkan kebanyakan pengaba sebelumnya. Meskipun begitu, tetap ada ketegangan yang terasa—ia  tidak menunjukan senyum “pepsodent” yang biasa ia tunjukan untuk membuat kami semua ikut senyum dan merasa lebih santai.

Yang penulis pikirkan selanjutnya adalah untuk menikmati keseluruhan, seluruh musik yang dihasilkan oleh teman-teman, sambil berusaha memproyeksikan suara violin sendiri—menyodorkan bahu, mengarahkan f-holes ke arah penonton, dan memastikan gesekan bow tegak lurus dari senar.
Intonasi sudah tidak lagi penulis pikirkan, biarlah latihan berbulan-bulan yang berbicara.

Selagi kami memainkan komposisi pertama kami, En Bateau, karya Claude Debussy,  penulis mulai terserap dalam kekinian, menikmati momen ini detik demi detik. Karena beberapa bagian sudah hafal, penulis menyempatkan memperluas kesadarannya, menjauh dari kubikel kertas partitur: memperhatikan pengaba di depan, memastikan gesekan sama dengan Tya, principal violin 2, menengok pemain woodwind dan perkusi di belakang, melirik pemain strings di kiri-kanan, mengagumi megahnya interior concert hall dan “balon-balonan” di atas, serta melihat penonton di kursi yang paling belakang, nun jauh di kegelapan. Lagu diakhiri oleh akor G mayor, yang kalau kata pengaba kami, harus dimainkan dengan membayangkan sebuah danau gemerlap, indah, dan tenang.

Komposisi kedua yang kami mainkan merupakan komposisi kontemporer asli Indonesia berjudul From The Break of The Morning yang kata pengaba kami, merupakan wajah musik Indonesia saat ini, karya Marisa Sharon Hartanto. Komposisi ini spesial, bertuliskan “for Orkestra Mahawaditra UI” di atas partiturnya. Jika sang komposer memberikan kepercayaan kepada kami untuk memainkan karyanya, apalagi di atas panggung SOH, penulis merasa kepercayaan tersebut tepat, karena bagian solo klarinetnya telah dieksekusi sempurna oleh pemain klarinet OSUI Mahawaditra, Althea Averina.

Frasa dari melodinya, masih nancep di kepala penulis,
“Laasiidoo mifami DOOoooo siii……. laaaAAA”..

Seusai mendengar hanya suara lembut, bulat, klarinet mengalunkan kalimat solo tersebut memecah hening concert hall SOH, penulis kembali berhitung, menemukan kesadaran penulis kembali terhisap oleh partitur violin 2 di depan muka penulis. Maklum, belum hafal sepenuhnya..

Komposisi ke-3 yang dimainkan adalah Engklek, karya Fero Aldiansya Stefanus. Komposisi ini riang, sesuai dengan judulnya  yang merupakan sebuah permainan.  Yang unik dan membanggakan adalah, ada angklung dalam komposisi ini—meskipun  kami bukan satu-satunya orkestra dari Indonesia yang ikut berpartisipasi dalam acara ini, hanya kami yang membunyikan suara angklung di dalam SOH.

Memainkan angklung bukan sesuatu yang mudah. Tiap angklung yang kami miliki masing-masing membunyikan nada yang berbeda. Ada 8 angklung  dengan nada C,D,E,F,G,A,B,dan C tinggi. Setiap orang memainkan satu angklung, dan ke-8 orang ini harus saling kerja sama dan memainkannya sebagai satu kesatuan. Gabungkan ini dengan sebuah orkestra, maka kalian akan mendapatan sedikit gambaran penderitaan seorang pengaba.

Para pemain angklung kami kebetulan merupakan cabutan (pemain ganda) dari instrumen lain, sehingga sebelum komposisi ini dimainkan, mereka harus mempersiapkan partitur, meninggalkan instrumen mereka, membawa angklung, dan dari posisi awal mereka, maju ke depan panggung di sela-sela penampilan.

“kluntang, kluntung”, suara angklung dibawa ke depan.

Karena tidak ada gladiresik dan semacamnya, sempat terjadi kendala teknis yang cukup memakan waktu. Pengaba kami dengan cepat membuat sebuah sikap, meneriakan

“This is angklung, our traditional instrument!”
kepada seluruh penonton yang menunggu, disambut dengan tepuk tangan yang meriah.

Lagu kemudian dimulai dengan pizzicato dari cello,
“do, soldo, soldo, soldosol mi! sol do”,
ditimpal dengan bassoon,
1, 2, 1, 2,
violin 1 masuk, violin 2 masuk!

Pemain angklung

Seperti sedang bermain enklek sambil loncat-loncat, lagu ini agak menantang, ngajak main, dan seru untuk dimainkan. Kalo boleh saran buat mas Fero, penulis minta permainan benteng dan galaksin juga sekalian dibuat komposisinya. Opus 11, Konserto untuk Bocah SD.

Terakhir, kami memainkan Es Lilin-Warung Pojok, aransemen Cheppy Soemirat. Disini  ada instrumen kendang yang dimainkan oleh Muhammad Fajry, solisnya. Mendengarkan tabuhan kendang pada saat lagu dimainkan, yang ada dipikiran penulis hanya satu kata: joget. Penulis yakin setiap jiwa, terutama jiwa melayu yang mendengarkan lagu ini, hati kecilnya akan bergetar, meminta ikut joget. Jika musik merupakan sebuah bahasa universial, maka kendang  adalah kata perintah untuk joget,

“Jogetlah!”

Secara teknis lagu ini menantang. Karena memang kurang persiapan dan latihan, penulis tidak tau kesadarannya ada dimana pada saat memainkan lagu ini. Kesadaran penulis silih berganti, sekali-kali ada di partitur karena belum menguasai, terkadang ada di pengaba, tidak jarang ada di kendang, dan sempat juga di penonton—melihat  dengan mata awas, apakah dari mereka ada yang ikut joget apa tidak.

Sebagaimana momen-momen yang dinikmati dan disukai lainnya, seperti ketika sedang berduaan, berbagi makanan dengan orang yang dicintai.. waktu terasa singkat.

Sebelum berangkat, kami sudah diwanti-wanti oleh tim artistik bahwa penampilan kami di SOH akan berlangsung dengan singkat dan panitia akan tegas mengenai waktu,

tapi,

Sesingkat ini?

Tak disangka, kami sudah berdiri, ditepoki dan disiuli. Tidak sebentar.

Kami keluar panggung melalui pintu lain di seberang pintu masuk, di kiri panggung, dan kembali turun ke backstage, masih tidak percaya apa yang terjadi sebelumnya.

OSUI Mahawaditra telah bermain di atas panggung utama, di dalam Sydney Opera House.

Biarkan musik yang kami tinggalkan mengendap disana, selamanya.

Keenan M. Gebze
Violinist OSUI Mahawaditra
Ilmu Geografi FMIPA UI 2012

Footer Post Wordress

Iklan

Satu pemikiran pada “Di Atas Panggung Sydney Opera House

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s